Jumat, 19 Oktober 2012

Makalah Miometritis


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pada wanita terdapat hubungan dari dunia luar dengan rongga peritonum melalui vulva, vagina, uterus dan tuba fallopii. Untuk mencegah terjadinya infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masing – masing alat traktus genitalis memiliki mekanisme pertahanan.
Radang atau infeksi pada alat – alat genetalia dapat timbul secara akut dengan akibat meninggalnya penderita, atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas, atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba.
 Penyakit akur juga bisa menjadi menahun, atau penyakit dari permulaan sudah menahun.Infeksi pada uterus menjalar ke tuba Fallopii dan rongga peritonium melalui 2 jalan. Pada gonorhea penyakit menjalar dari endometrium, sedan ginfeksi puerperal kuman – kuman dari uterus melalui darah dan limfe menuju parametrium, tuba, ovarium dan rongga peritonium.
           Pada makalah ini akan dibahas mengenai miometritis atau radang miometrium yang merupakan kelanjutan dari penyakit endometritis beserta dengan penanganannya.



B.   Tujuan
Agar penulis dapat mengerti dan paham tentang Asuhan kebidanan pada infeksi radang genetalia interna, khususnya tentang miometritis beserta dengan penatalaksanaannya.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Definisi Miometritis / Metritis
Metritis adalah radang miometrium. Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti endometritis.
B.   Klasifikasi
1.    Metritis akut
Metritis Akut biasanya terdapat pada abortus septic atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang (endometritis) dapat menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.
2.    Metritis Kronik
Metritis kronik adalah diagnosis yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang dan leukorea. Akan tetapi pembesaran uterus pada seorang multipara umumnya disebabkan oleh pertambahan jaringan ikat akibat kelamin. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi :
a.    Abses pelvik
b.    Peritonitis
c.    Syok septic
d.    Dispareunia
e.    Trombosis vena yang dalam
f.     Emboli pulmonal
g.     Infeksi pelvik yang menahun
h.    Penyumbatan tuba dan infertilitas
C.   Factor Presdiposisi
- Infeksi abortus dan partus
- Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim
- Infeksi post curettage
D.   Gejala-gejala
Gejala metristis dan pengobatannya sama dengan gejala dan penanganan endometritis yaitu :
a. Demam
b. Keluar lochea berbau / purulent, keputihan yang berbau
c. Sakit pinggang
d. Nyeri abdomen
E.   Diagnosa dan Terapi
Diagnosa hanya dapat dibuat secara patolog anatomis.
F.    Komplikasi
Dapat terjadi penyebaran ke jaringan sekitarnya seperti:
a.    Parametritis (infeksi sekitar rahim)
b.    Salpingitis (infeksi saluran otot)
c.    Ooforitis (infeksi indung telur)
d.    Pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur.
  i.    Penatalaksanaan
Terapi miometritis :
a.    Antibiotika spektrum luas
- Ampisilin 2 g iv / 6 jam
- Gentamisin 5 mg kgbb
- Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b.    Profilaksi antitetanus
c.    Evakuasi sisa hasil konsepsi
Manajemen
- Antibiotik kombinasi
- Transfusi jika diperlukan

BAB III

STUDI KASUS


ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. M, UMUR 29 TAHUN, P1A1,
DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI MIOMETRITIS

Hari/Tanggal : Kamis, 15 Oktober 2009
Tempat : BPS Bidan Ny. Wigati
Pukul : 10.00 WIB

  I.    PENGKAJIAN
A.   Data Subyektif
2.    Identitas/Biodata
Identitas Pasien Identitas Penanggungjawab
Nama                   : Ny. M           / Tn. E
Umur                    : 29 tahun     / 31 tahun
Agama                 : Islam
Pendidikan         : SMP             / SMA
Pekerjaan            : IRT  / Swasta
Suku/Bangsa     : Jawa            / Jawa
Alamat                  : Jl. Campus no.120 RT/RW : 02/05 RT/RW : 02/05
3.     Alasan Datang
Ibu datang hendak memeriksakan keadaan dirinya.
4.    Keluhan Utama
Ibu mengeluh sakit pinggang, sering mengalami perdarahan di luar siklus haid yang banyak, dan mengalami keputihan yang berbau.
5.    Riwayat Kesehatan
a.   Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ibu tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya (sebelum hamil anak ke-2). Ibu tidak pernah menderita hipertensi, jantung, DM, PMS dan penyakit menular maupun menurun lainnya.
b.  Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu tidak sedang menderita penyakit DM, hipertensi, jantung, PMS dan penyakit menular dan menurun lainnya.
c.  Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tidak ada yang memiliki penyakit DM, hipertensi, jantung, PMS dan penyakit menular maupun menurun lainnya.
6.    Riwayat Obstetrik
a.  Riwayat menstruasi
Menarche       : 14 tahun
Siklus              : tidak teratur
Banyak            : 3-4x ganti pembalut/hari
Lama                : tidak teratur
Warna              : merah segar
Sifat                 : Encer
Bau                  : khas
Dismenorhea : tidak
b.  Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
kehamilan
UK
Jenis penolong
tempat
penyulit
BBL
sex
Hidup/ mati
pertama
37 mgg
bidan
BPS

2900 gr
LK
hidup
kedua
12 mgg
dr.obgyn
_
_
_
_
_





7.    Riwayat Perkawinan
Istri
Nikah berapa kali : 1x
Lamanya             : 4 tahun
Umur menikah   : 25 tahun

Suami
Nikah berapa kali : 1x
Lamanya             : 4 tahun
Umur menikah   : 27 tahun
8.    Riwayat KB
Post abortum ibu langsung menggunakan KB IUD dan sudah menggunakan KB IUD selama kurang lebih 3 bulan.

9.    Pola Pemenuhan Kebutuhan sehari-hari
a.    Pola Nutrisi
Makan : 2x/hari, porsi sedang, dengan nasi, sayur, tahu, tempe, telur
Minum : 6 gelas/hari, air putih, teh manis
b.    Pola Eliminasi
BAK : 4x/hari, warna kuning jernih, konsistensi cair
BAB : 1x/hari, warna kuning kecoklatan, konsistensi lembek
c.    Pola Aktivitas
Ibu mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci dan memasak.
d.    Pola Istirahat
Tidur siang    : 1 jam
Tidur malam  : 7 jam
e.    Pola Seksual : 1x/ minggu
f.     Pola Hygiene
mandi             : 2x/hari
keramas         : 3x/minggu
gosok gigi      : 2x/hari
ganti baju      : 2x/hari
g.    Pola Hidup Sehat
Ibu tidak mengonsumsi alkohol, rokok, jamu2an dan obat-obat terlarang.
h.    Pola Psikososial
hubungan ibu dengan suami harmonis, suami selalu memberikan support kepada istrinya. Hubungan ibu dengan keluarga dan tetangga terjalin baik.
i.      Pola spiritual
Ibu merasa aktivitas ibadahnya terganggu karena sering mengalami perdarahan di luar siklus haid.
B.   Data Objektif
1.     Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran          : Composmentis
BB                         : 52 Kg
TB                         : 156 cm
TD                         : 100/70 mmHg
Respirasi                         : 22x/menit
Nadi                      : 82x/menit
Suhu                    : 36,90C
2.    Pemeriksaan Fisik
a.    Kepala
rambut hitam, keriting, tidak rontok, bersih
b.    Mata
conjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
c.    Hidung
tidak ada polip, tidak ada secret
d.    Mulut dan gigi
bibir merah muda, tidak ada stomatitis, tidak ada caries
e.    Telinga
simetris, tidak ada serumen
f.     Leher
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe, dan vena jugularis
g.    Ketiak
tidak ada benjolan/ massa
h.    Dada/Payudara
simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, puting
susu menonjol, tidak ada pengeluaran
i.      Abdomen
tidak ada pembesaran, tidak ada luka bekas operasi, terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah
j.      Punggung
 terdapat nyeri tekan pada pinggang
k.    Ekstremitas atas
akral hangat, tidak oedema, capilary refil kembali < 2 detik
l.      Ekstremitas Bawah
tidak ada varises, tidak ada oedema, tidak ada tanda kemerahan
m.   Genetalia
tidak ada varises, terdapat perdarahan Pervaginam merah segar sedikit bau busuk konsistensi encer, tidak ada pembengkakan dan nyeri tekan pada kelenjar skene dan kelenjar bartholini
n.    Anus
tidak hemoroid
3.     Pemeriksaan Laboratorium    
Hb           : 10,5gr%
II.    INTERPRETASI DATA
Diagnosa : Ny. M, umur 29 tahun, P1A1, dengan suspect miometritis
Data Dasar
DS                        : ibu mengeluh sakit pinggang, sering mengalami perdarahan di
                   luar  siklus haid yang banyak, dan mengalami keputihan yang berbau.
DO            :         
TTV : TD      : 100/70 mmHg
Respirasi    : 22x/menit
Nadi             : 82x/menit Suhu : 36,90C
Pemeriksaan Fisik
Mata               : Conjungtiva anemis
Abdomen       : terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah
Punggung     : terdapat nyeri tekan pada pinggang
Genetalia       : terdapat perdarahan Pervaginam merah segar sedikit bau
 busuk konsistensi encer
HB               : 10,5 gr%
Masalah
- nyeri tekan perut bagian bawah
- sakit pinggang
- Pengeluaran pervaginam yang abnormal
III.    ANTISIPASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Potensial terjadi perluasan peradangan pada daerah sekitarnya yaitu parametritis.
IV.    IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI
Kolaborasi : Pemeriksaan penunjang lain untuk menegakkan diagnosa secara patolog anatomis, pengobatan serta penatalaksanaan lebih lanjut dengan spesialis Obgin.
V.     MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
1.    beritahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan
R/ ibu mengerti tentang kondisi kesehatannya
2.     jelaskan kepada ibu tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya
R/ ibu mengerti tentang penyakit yang kemungkinan dideritanya
3.    berikan dukungan emosional kepada ibu
R/ ibu mendapat dukungan
4.    berikan ibu tablet penambah darah
R/ memperbaiki kondisi umum ibu
5.     minta persetujuan ibu dan keluarga untuk dilakukannya rujukan
R/ penanganan lebih lanjut

VI     PELAKSANAAN
1.    Memberitahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap dirinya
2.    Menjelaskan kepada ibu tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya
3.    Memberikan dukungan emosional kepada ibu agar ibu tenang dan dapat menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang terjadi pada dirinya
4.    Memberikan ibu tablet penambah darah untuk memperbaiki kadar haemoglobinnya
5.    Meminta persetujuan ibu dan keluarga untuk dilakukannya rujukan

VII EVALUASI
Tanggal 15 Oktober 2009 Jam  11. 00 WIB
S               : Ibu mengatakan telah mengerti tentang penjelasan yang telah
diberikanoleh bidan.
Ibu telah mengerti tentang kondisi kesehatannya
O               : Ibu dapat mengulang kembali penjelasan.
Ibu menganguk tanda mengerti.
A               : Ny. M, umur 29 tahun, P1A1, dengan suspect miometritis
P               : Mendampingi ibu saat dilakukannya rujukan


PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. M,
UMUR 29 TAHUN, P1A1, DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI MIOMETRITIS

Hari/Tanggal : Kamis, 15 Oktober 2009
Tempat : BPS Bidan Ny. Wigati
Pukul : 10.00 WIB

A.   Data Subjektif
Identitas Pasien Identitas Penanggungjawab
Nama                   : Ny. M           / Tn. E
Umur                    : 29 tahun     / 31 tahun
Agama                 : Islam
Pendidikan         : SMP             / SMA
Pekerjaan            : IRT  / Swasta
Suku/Bangsa     : Jawa            / Jawa
Alamat                  : Jl. Campus no.120 RT/RW : 02/05 RT/RW                               :     02/05
      Alasan Datang
Ibu datang hendak memeriksakan keadaan dirinya.
      Keluhan Utama
Ibu mengeluh sakit pinggang, sering mengalami perdarahan di luar siklus haid yang banyak, dan mengalami keputihan yang berbau.
B.   Data Objektif
1.    Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum    : Baik
Kesadaran            : Composmentis
BB                            : 52 Kg
TB                            : 156 cm
TD                            : 100/70 mmHg
 Respirasi               : 22x/menit
Nadi                         : 82x/menit
Suhu                       : 36,90C
2.    Pemeriksaan Fisik
a.     Kepala
rambut hitam, keriting, tidak rontok, bersih
b.    Mata
conjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
c.    Hidung
tidak ada polip, tidak ada secret
d.    Mulut dan gigi
bibir merah muda, tidak ada stomatitis, tidak ada caries

e.    Telinga
simetris, tidak ada serumen
f.     Leher
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe, dan vena jugularis
g.    Ketiak
tidak ada benjolan/ massa
h.    Dada/Payudara
simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, puting
susu menonjol, tidak ada pengeluaran
i.      Abdomen
tidak ada pembesaran, tidak ada luka bekas operasi, terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah
j.      Punggung
 terdapat nyeri tekan pada pinggang
k.    Ekstremitas atas
akral hangat, tidak oedema, capilary refil kembali < 2 detik
l.      Ekstremitas Bawah
tidak ada varises, tidak ada oedema, tidak ada tanda kemerahan
m.   Genetalia
tidak ada varises, terdapat perdarahan Pervaginam merah segar sedikit bau busuk konsistensi encer, tidak ada pembengkakan dan nyeri tekan pada kelenjar skene dan kelenjar bartholini

n.    Anus
tidak hemoroid
3.     Pemeriksaan Laboratorium       
Hb           : 10,5gr%
C.   Assesment
Diagnosa : Ny. M, umur 29 tahun, P1A1, dengan suspect miometritis
D.   Planning
1.    Memberitahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap dirinya
2.    Menjelaskan kepada ibu tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya
3.    Memberikan dukungan emosional kepada ibu agar ibu tenang dan dapat menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang terjadi pada dirinya
4.    Memberikan ibu tablet penambah darah untuk memperbaiki kadar haemoglobinnya
5.    Meminta persetujuan ibu dan keluarga untuk dilakukannya rujukan



BAB IV
PEMBAHASAN

  i.    Definisi Miometritis / Metritis
Metritis adalah radang miometrium. Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti endometritis.
ii.    Klasifikasi
4.    Metritis akut
Metritis Akut biasanya terdapat pada abortus septic atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang (endometritis) dapat menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.
5.    Metritis Kronik
Metritis kronik adalah diagnosis yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang dan leukorea. Akan tetapi pembesaran uterus pada seorang multipara umumnya disebabkan oleh pertambahan jaringan ikat akibat kelamin. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi :
i.      Abses pelvik
j.      Peritonitis
k.    Syok septic
l.      Dispareunia
m.   Trombosis vena yang dalam
n.    Emboli pulmonal
o.     Infeksi pelvik yang menahun
p.    Penyumbatan tuba dan infertilitas
                                                   iii.    Penyebab
·         Infeksi abortus dan partus
·         Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim
·         Infeksi post curettage
Miometritis dapat juga terjadi karena kelanjutan dari kelahiran yang tidak normal, seperti abortus, retensi sekundinarum, kelahiran premature, kelahirankembar, keahiran yang sukar (distosia), perlukaan yang disebabkan oleh alat-alatyang dipergunakan untuk pertolongan pada kelahiran yang sukar.
                                                   iv.    Patofisiologi
Pada postbortum dan postpartum sering terdapat luka ± luka pada serviksUteri, luka dinding uterus bekas tempat plasenta, yang merupakan Porte dentrĂ©e bagi kuman-kuman pathogen. Selain itu, alat-alat yang Digunakan pada abortusdan partus tidak steril dapat membawa kuman ke dalam uterus.

                                                    v.     Tanda dan Gejala
Gejala metristis dan pengobatannya sama dengan gejala dan penangananendometritis  yaitu :
·                  Demam
·                  Keluar lochea berbau / purulent,
·                  keputihan yang berbauc.
·                  Sakit pinggang
·                  Nyeri abdomen
                                                                              vi.      Diagnosa
Diagnosa hanya dapat dibuat secara patologi anatomis.

                                                  vii.    Komplikasi
 Dapat terjadi penyebaran ke jaringan sekitarnya seperti
·         Parametritis (infeksi sekitar rahim)
·         Salpingitis (infeksi saluran otot)
·          Ooforitis (infeksi indung telur)
·         Pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau         indung telur. 
                                                                           viii.      Deteksi Dini
·                  Menyembuhkan penyakit metabolisme
·                   Memenuhi kebutuhan magnesium
·                  Perbaiki kebutuhan nutrisi
·                  Menjaga kebersihan alat yang digunakan dalam pertolongan kelahiran
                                                   ix.     Asuhan kebidanan
·         Menjelaskan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya
·         Memberikan dukungan emosional kepada pasien agar pasien tenang dan dapatmenerima dengan ikhlas segala sesuatu yang terjadi pada dirinya
·         Memberikan tablet penambah darah untuk memperbaiki kadar haemoglobinnya
·         Meminta persetujuan pasien dan keluarga untuk dilakukannya rujukan
·         Mendampingi ibu saat dilakukannya rujukan
·         Uterotonika
·         Istirahat, posisi fowler 

                                                    x.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaa  miometritis :
a.    Antibiotika spektrum luas
·         Ampisilin 2 g iv / 6 jam
·         Gentamisin 5 mg kgbb
·         Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b.    Profilaksi antitetanus
c.    Evakuasi sisa hasil konsepsi
Manajemen
·         Antibiotik kombinasi
·         Transfusi jika diperlukan
 

BAB IV

PENUTUP


A.   Kesimpulan
Miometritis adalah radang miometrium. Sedangkan miometrium adalah tunika muskularis uterus. Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau, purulen.
Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh pemanbahan jaringan ikat akibat kehamilan. Terapi dapat berupa antibiotik spektrum luas seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam, gentamisin 5 mg kg/BB, metronidasol mg IV per 8 jam, profilaksi anti tetanus, efakuasi hasil konsepsi.
B.   Saran
Demi kesempurnaan makalah kami, maka kami meminta saran serta kritik yang mendukung demi kesempurnaan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar